Home Dumai Riau Nasional Politik Gosip Kriminal Musik Teknologi Edukasi Kesehatan Olahraga Kuliner Wisata Iklan
motivasi

Buletin Jum at Online : Memakmurkan Masjid

pukul



Materi Khutbah 

MEMAKMURKAN MASJID

إنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ, نَحْمَدُهُ, وَنَسْتَعِينُهُ, وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا, وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا.

وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا محَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.

اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا،

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ،

اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى :

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Sungguh yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang mengimani Allah dan Hari Akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Merekalah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk  (QS at-Taubah [9]: 18).

Ikhwani fiddin a’azzaniyallahu waiyyakum,

Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ketakwaan. Dengan begitu, kita akan semakin mampu berpegang teguh dengan agama-Nya. Sehingga kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia maupun di akhirat kelak.

Jamaah yang dimuliakan oleh Allah

Alhamdulillah, saat ini kita berada di satu tempat yang paling dicintai oleh Allah, yakni masjid. Dari Abdurrahman bin Mihran, Rasulullah SAW bersabda:

أَحَبُّ الْبِلاَدِ إِلَى اللهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلاَدِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا

Tempat yang paling Allah cintai adalah masjid, dan tempat yang paling Allah benci adalah pasar. (HR Muslim)

Mengapa masjid begitu dicintai Allah? Imam Al Qurtubi menyebut, karena tempat-tempat itu terkhususkan untuk melakukan berbagai ibadah, dzikir, tempat kaum Mukminin berkumpul, tempat  syiar-syiar agama Allâh Azza wa Jalla terlihat jelas, dan tempat yang dihadiri para Malaikat.

Sidang jumah rahimakumullah 

Tak heran bila baginda Nabi SAW, menjadikan masjid sebagai pusat segalanya. Selain sebagai tempat ibadah, Rasulullah SAW menyampaikan ajaran Islam dari tempat ini. Di Masjid Nabawi, beliau bertindak sebagai hakim yang memutuskan ragam persengketaan di kalangan umat, bermusyawarah dengan para sahabat, bahkan mengatur siasat perang dan siasat bernegara. Nabi SAW juga menerima tamu delegasi dari negara lain juga di masjid. Walhasil, Masjid Nabawi menjadi basis politik dan pusat pemerintahan Islam.

Keadaan yang sama berlangsung di masa Khulafaur Rasyidin. Masjid tetap merupakan pusat kegiatan politik dan pemerintahan. Di sanalah Abu Bakar menerima baiat (pengangkatan sebagai khalifah) setelah disetujui dalam pertemuan di Saqifah Bani Saidah. Demikian seterusnya.

Jamaah yang dimuliakan Allah 

Sejarah mencatat setidaknya ada 10 fungsi masjid pada zaman Nabi SAW yaitu: tempat ibadah ritual (shalat, zikir. tilawah al-Quran); tempat konsultasi dan komunikasi umat tentang berbagai persoalan kehidupan; tempat pendidikan; tempat pembagian zakat, ghanîmah, sedekah, dll; tempat latihan militer/perang;  tempat pengobatan dan perawatan para korban perang; tempat pengadilan sengketa; tempat menerima tamu; tempat menawan tahanan; dan pusat penerangan Islam.

Inilah fungsi masjid. Sudah seharusnya orang-orang yang beriman memakmurkan masjid, sebagaimana fungsi yang sebenarnya. Allah SWT memerintahkan:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Sungguh yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang mengimani Allah dan Hari Akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah. Merekalah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk  (QS at-Taubah [9]: 18).

Maka, jangan sampai masjid-masjid yang ada jatuh ke tangan orang-orang munafik. Ingatlah peringatan Allah SWT:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدً ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ

(Di antara kaum munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemadaratan (atas kaum Mukmin), karena kekufuran, untuk memecah-belah kaum Mukmin serta demi menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dulu. Mereka benar-benar bersumpah, “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Padahal Allah menyaksikan bahwa mereka itu adalah para pendusta (dalam sumpahnya)  (TQS at-Taubah [9]: 107).

Jamaah yang dirahmati Allah SWT 

Kita harus berhati-hati dengan adanya kampanye anti politisasi masjid yang disuarakan orang kafir dan munafik belakangan ini. Ingat, masjid adalah tempat kita bicara ajaran Islam A sampai Z. Dari mulai urusan membersihkan najis hingga berbicara tentang pengaturan urusan umat dengan aturan Islam. Berbicara urusan pribadi hingga bagaimana mengatur negara.   

Terlebih lagi kalau kita tahu makna politik (siyasah). Dalam pandangan Islam, politik adalah, pengaturan urusan-urusan masyarakat dalam dan luar negeri berdasarkan syariah Islam.

Makna politik ini digali dari berbagai dalil, di antaranya dari sabda Nabi SAW:

«كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الأَنْبِيَاءُ، كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ، وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي، وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ»

Dulu Bani Israil diatur urusannya oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi wafat, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sungguh tidak ada nabi sesudahku. Yang akan ada adalah para khalifah dan jumlah mereka banyak (HR al-Bukhari dan Muslim).

Mengomentari hadis ini, Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath al-Bâri (VI/497) menyatakan, “Di dalam hadis ini ada isyarat bahwa, tidak boleh tidak, rakyat harus mempunyai seseorang yang mengurus berbagai urusan mereka, membawa mereka ke jalan yang baik dan menolong orang yang dizalimi dari orang yang berbuat zalim.”

Walhasil, politik bukan saja merupakan bagian integral dari Islam, tetapi juga perkara yang agung dalam Islam. Karena itu sama dengan shalat, politik dalam makna mengurus urusan masyarakat dengan syariah Islam tak bisa dipisahkan dari Islam.

Semoga, Allah senantiasa menjadikan kita pembela agamanya dan pemakmur masjid dengan terus menyuarakan Islam dengan lantang dari masjid. Aamiin