Home Dumai Riau Nasional Politik Gosip Kriminal Musik Teknologi Edukasi Kesehatan Olahraga Kuliner Wisata Iklan
kriminal pekanbaru riau

Klewang : saya pernah kena struk

pukul



ADA satu cerita menarik dari kehidupan Mardiryanto alias Klewang (58), Mbahnya geng motor Pekanbaru, biang terjadinya berbagai kerusuhan, tindak kriminal, dan aksi keributan terkait geng motor di Kota Pekanbaru. Belasan tahun silam, ia ternyata pernah terkena stroke buah dari gaya hidup berandalan yang dijalaninya. Hal inipun meninggalkan jejak pada bentuk fisik Klewang.

Klewang tak berkutik setelah lama buron. Ia diamankan jajaran Polsek Tampan, Kamis (9/5) sore sekitar pukul 14.30 WIB di salah satu bedeng di Kawasan Stadion Utama bersama Fi (18) dan Ar (17), keduanya anggota geng motor XTC. Bersama mereka turut diamankan pula tiga bilah senjata tajam.

Timbulnya pengakuan bahwa ia pernah terkena stroke itu muncul tanpa sengaja saat Riau Pos bersama beberapa awak media lainnya mewawancarai Klewang, Jumat (10/5) siang. Selama wawancara berlangsung, ia tidak berbicara dengan normal. Suara yang keluar dari mulutnya termasuk lemah untuk seorang yang sempat jadi sosok menakutkan diantara komunitas geng motor.

Riau Pos sempat menanyakan, apakah ia kelelahan akibat menjalani pemeriksaan polisi. Klewang hanya menggeleng. Penasaran yang mencuat membuat pertanyaan lain muncul, kenapa mulutnya miring dan tak simetris dengan bagian bibir bawah hingga dagu condong bergeser ke kiri. ‘’Awak pernah kena stroke,’’ jawabnya lemah sambil mengatakan stroke ini dideritanya sekitar 15 tahun yang lalu.

Stroke, merupakan konsekwensi wajar dari gaya hidup jalanan yang dilakoni Klewang. Meski tak mau bercerita banyak tentang apa yang dilakoninya di masa lalu, namun setelah sempat menderita stroke-pun ia tetap hidup seperti berandalan, nikmati kesenangan dunia melalui tenggakan minuma keras. Ini diungkapkan Fi.

‘’Kami dibawa minum-minum. Main cewek, sama merusuh,’’ terangnya mengungkapkan perilaku Klewang yang diikuti mereka. Minuman keras yang ditenggak juga membuat ciut nyali, miras kelas bawah dan rawan oplosan. ‘’Minum Mension biasanya,’’ sambung Fi.

Klewang sendiri mengakui, tingkah polahnya terlibat dalam geng motor sudah membuat keluarganya angkat tangan. Sang istri sudah berulang kali mengingatkan, namun itu hanya dianggapnya angin lalu. Parahnya, bukannya berubah jadi baik, dua dari enam orang anaknya malah ikut-ikutan menjadi geng motor. ‘’Bambang dan Colo. Cuma dua itu yang ikut geng motor,’’ terang Klewang.

Jika itu dianggap masyarakat keterlaluan, maka bersiaplah terkejut. Karena, kerabat yang dalam garis keturunan terhitung cucupun dijadikannya geng motor. Cucunya ini bernama Giwang. Anak inilah yang membawa Fi bergabung bersama XTC. ‘’Saya masuk melalui Giwang. Pas Bapak (Klewang) tiba di Pekanbaru, saja dikenalkannya,’’ beber Fi.

Meski terkesan ia adalah begundal selama hidup, Klewang mengaku pernah melakukan beberapa pekerjaan baik-baik. Ia pernah merantau ke Jakarta untuk berjualan sekitar 20 tahun lalu. Ia juga mengaku pernah bekerja sebagai buruh bangunan. Namun, menjadi geng motor yang akhirnya ‘ditekuni’ beberapa tahun terakhir. Ditambah lagi, setelah ia dibacok pada bagian kepala di tahun 2012, semakin tebal saja tekadnya untuk menjadi pentolan berandal jalanan.

Di balik anarkisme dan aksi rusuh lain yang dibuat oleh geng motor, ada kondisi dimana ternyata dari setiap tindak kejahatan yang dilakukan pasti akan dibarengi dengan perampasan harta benda korban. Mulai dari sepeda motor, handphone dan berbagai harta benda lain. Benda-benda inilah yang kemudian dijual murah. Seorang sumber Riau Pos sempat bercerita bahwa anggota geng motor pernah menawarinya sepeda motor hasil curian dengan harga hanya di bawah Rp1 juta. ‘’Kalau handphone Blancberry ndak sampai Rp400 ribu,’’ terang sumber ini.

Fakta yang paling baru dari kepolisian terkait prilaku geng motor. Tiga dari lima panglima bawahan Klewang, Gi, Ko, dan Fa diduga memperkosa seorang remaja perempuan di kawasan Main Stadium (Stadion Utama) Riau, Senin (6/5). Saat itu, ketiganya menghajar teman pria si wanita.

Setelah teman pria ini dibuat tak berdaya, sang wanitapun digagahi. Belum cukup sampai disana, sepeda motor, handphone dan dompet korban dirampas. Bahkan si wanita kabarnya juga disuruh pulang hanya dengan pakaian dalam.

Kepribadian anggota-anggota geng motor memang seperti berbanding terbalik saat bersama kelompoknya dan saat sendiri. Ketika sendiri, mereka tak ubahnya remaja lain yang terlihat lugu tak bersalah, namun janga ditanya jika sudah bersama. Mental mereka naik, kepribadianpun berubah cenderung anarkis. ‘’Untuk beking bang. Kalau sudah ramai-ramai tidak takut. Apalagi kalau mau kelahi dengan yang lain (lawan),’’ kata Fi.

Ia mencontohkan, jika akan berkelahi kelompoknya XTC tidak membawa atribut ataupun bendera. Namun, jika saling bertemu dengan sesama anggota, mereka akan memberikan kode menyilangkan tangan. ‘’Kalau seperti itu sudah tahu, itu sama,’’ tutur Fi.

Bedeng tempat Klewang ditangkap oleh aparat Polsek Tampan Kamis (9/5) sore yang lalu, kata Klewang sudah ditempati kelompok ini sejak enam bulan lalu. ‘’Dulu di Pasir Putih, Pandau, di rumah,’’ terangnya. Namun setelah polisi rutin menyatroni rumah itu untuk melacak keberadaan Klewang, mereka bubar dari Pasir Putih dan berpindah ke Main Stadion.

Bedeng ini terletak di sisi selatan stadion dengan bagian belakangnya berbatasan dengan bukit. Bedeng ini berlantai dua, dengan ukuran sekitar 10 x 5 meter. Tak jauh dari bedeng itu terdapat mushalla. Kondisinya cukup memprihatinkan, karena sudah dipenuhi coretan pilox bertuliskan XTC beberapa nama diduga geng motor.

Di markas baru yang dahulunya adalah bedeng milik kontraktor PT Waskita Karya ini, Klewang diperlakukan bak raja. Saat ditangkap itu saja, Klewang sedang tidur-tiduran menunggu diantarkan makanan. ‘’Saya lihat Bapak belum makan. Saya rencananya mau pulang ambil makanan. Pas sampai sudah ada polisi,’’ ungkap Fi mengenai kejadian saat itu.

Pada Bedeng ini pulalah, Fi bertutur bagaimana anggota geng motor baru, khususnya perempuan digagahi. Disini, Klewang biasanya memanggil perempuan yang ingin bergabung. ‘’Nanti dia nanya, serius mau masuk? Sesudah itu dia merayu. Cewek yang mau masuk itu nanti dibawa ke belakang bedeng disitulah dikerjainya,’’ tutur Fi menceritakan bagaimana Klewang meniduri perempuan-perempuan yang akan bergabung itu.

Fi juga mengungkapan, bukan hanya Klewang yang sering berhubungan sex di bedeng itu. Ia juga pernah berhubungan badan dengan sang pacar di bedeng itu. ‘’Ada juga kadang yang lain berhubungan di sana,’’ imbuhnya.(ali)